Hati-hati terhadap gula jawa yang mengandung sulfit!

Gula jawa dengan tekstur yang mantap, warna kuning cerah tentu menarik bagi ibu-ibu. Tetapi hati-hati terhadap gula jawa yang mengandung pengawet tak aman seperti sulfit dan turunannya karena berbahaya bagu keshatan tubuh. Salah-salah ingin mendapatkan pemanis yang sehat, justru menjadi tersesat!

Memang saat ini gula jawa (gula yang benar-benar berasal dari pulau jawa, terutama karesidenan Banyumas) sedang “naik daun” di pasar dunia, terutama pasar Amerika dan Eropa (Javasugar Group sendiri saat ini rutin melakukan ekspor ke Taiwan, Singapore dan Belanda untuk kemudian menuju pasar terbaik dunia). Gula yang dipasarkan oleh Javasugar Group diproduksi oleh seorang Sarjana Teknologi Pangan alumni Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto sehingga dalam proses produksinya mengacu pada prinsip-prinsip keamanan pangan, termasuk dalam penggunaan bahan pengawet (jika diperlukan). Kulit nangka, manggis, pohon sulatri dan sampan serta daun sirih adalah beberapa pengawet dalam proses pembuatan gula jawa yang aman bagi kesehatan tubuh. Belakangan, beberapa pengawet yang saya sebutkan ini telah diteliti oleh Dosen S3 di Universitas tersebut.

Adalah Karseno, Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Unsoed yang telah melakukan penelitian atas keamanan pengawet alami tersebut.

“Bahan tersebut dicampur dengan rendaman kapur dengan takaran yang telah kami ukur dengan cermat,” kata penemu pengawet alami untuk gula merah atau gula Jawa. Gula merah ini dijamin lebih sehat dan siap menggusur gula merah berpengawet kimia.

“Kami membuat dalam tiga jenis, serbuk, cair dan tablet,” Lanjut Karseno.

Dengan bahan alami tersebut, imbuh Karseno, gula yang dihasilkan warnanya lebih cerah. Selain itu, tekstur gula menjadi keras dan padat. “Rasa juga manis, dan baik untuk kesehatan dan vitalitas pria,” imbuhnya.

Selama ini, banyak gula merah di pasaran memakai pengawet sintetis yang mengandung sulfit dan natrium metabisulfit. Zat tersebut bersifat toksik dan karsinogenik atau merupakan stimulan kanker. Karseno mengatakan pengawet alami ini siap diproduksi massal.

“Sekarang tinggal fase finishing di laboratorium,” kata Karseno. Pengawet alami temuan Unsoed ini telah diuji coba ke 700 pengrajin gula merah di Kecamatan Soma Gede, Kabupaten Banyumas. Banyumas merupakan penghasil terbesar gula merah di Jawa Tengah. Uji coba ini disambut baik. Hasil gulanya pun laris manis di pasar.

Karseno yakin, pengawet alami ini bisa bersaing dengan bahan pengawat kimia. Unsoed akan melibatkan pihak ketiga untuk memproduksi massal. Bahkan gula merah dengan pengawet alami bisa diekspor karena memiliki kadar air rendah yakni sekitar 4%. “Karena kadar airnya sangat rendah maka bisa diekspor karena tahan dalam waktu lama,”

  • Digg
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Buzz
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled